Hemodialisa

Terapi pengganti fungsi ginjal.

NNN

NANDA, NOC, NIC.

Kolaborasi tenaga medis

Perawat, dokter, ahli gizi.

Ilmu Keperawatan

i love nursing

Senin, 14 Oktober 2013

Hemodialisa

Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik. Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup bergantung pada cuci darah.
Di Indonesia, berdasarkan Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk, 60% nya adalah usia dewasa dan usia lanjut. Menurut Depkes RI 2009, pada peringatan Hari Ginjal Sedunia mengatakan hingga saat ini di Tanah Air terdapat sekitar 70 ribu orang pasien gagal ginjal kronik yang memerlukan penanganan terapi cuci darah. Sayangnya hanya 7.000 pasien gagal ginjal kronik atau 10% yang dapat melakukan cuci darah yang dibiayai program Gakin dan Askeskin.
Dari data PT Askes tahun 2009 menunjukkan insidensi gagal ginjal di Indonesia mencapai 350 per 1 juta penduduk, saat ini terdapat sekitar 70.000 pasien gagal ginjal kronik yang memerlukan cuci darah.
Cuci darah (Hemodialisa, sering disingkat HD) adalah salah satu terapi pada pasien dengan gagal ginjal yang dimana dalam hal ini fungsi “pencucian darah” yang seharusnya dilakukan oleh ginjal diganti dengan mesin. Dengan mesin ini pasien tidak perlu lagi melakukan cangkok ginjal, pasien hanya perlu melakukan cuci darah secara periodik dengan jarak waktu tergantung dari keparahan dari kegagalan fungsi ginjal.
Fungsi ginjal untuk “pencucian darah” adalah dengan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, ureum, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain.
Cuci darah dilakukan jika ginjal kita tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik atau biasa disebut dengan gagal ginjal. Kegagalan ginjal ini dapat terjadi secara mendadak (gagal ginjal akut) maupun yang terjadi secara perlahan (gagal ginjal kronik) dan sudah menyebabkan gangguan pada organ tubuh atau sistem dalam tubuh lain. Hal ini terjadi karena racun – racun yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal tidak dapat dikeluarkan karena rusaknya ginjal. Kelainan yang dapat terjadi yaitu meningkatnya kadar keasaman darah yang tidak bisa lagi diobati dengan obat – obatan, terjadinya ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, kegagalan jantung memompa darah akibat terlalu banyaknya cairan yang beredar di dalam darah, terjadinya peningkatan dari kadar ureum dalam tubuh yang dapat mengakibatkan kelainan fungsi otak, radang selaput jantung, dan perdarahan.
Cuci darah dapat dilakukan dalam sementara waktu apabila kerusakan fungsi ginjal bersifat sementara, biasanya sering terjadi pada kasus gagal ginjal akut. Tetapi, pada kasus gagal ginjal kronik dimana kerusakan fungsi ginjal bersifat permanen, maka cuci darah dilakukan seumur hidup pasiennya.
Rata-rata setiap orang memerlukan waktu 9-12 jam dalam sepekan untuk mencuci seluruh darah yang ada, tetapi karena dianggap terlalu lama, maka dibuat waktu cuci darahnya menjadi 3 kali  pertemuan dalam sepekan dan disetiap pertemuannya dilakukan selama 3-4 jam. Tentu saja akan berbeda pada setiap orang yang memerlukan cuci darah, hal itu sangat tergantung dari derajat kerusakan ginjalnya, diet sehari-hari, penyakit lain yang menyertainya dan lain-lain. Sehingga dokterlah yang akan menentukannya untuk setiap pasien dengan tepat.

Mekanisme pada mesin cuci darah adalah dengan memompakan darah pasien ke dalam mesin kemudian lalu dibersihkan dan dipompakan lagi ke dalam tubuh. Darah yang dipompakan ke dalam tubuh sekitar 200 – 300 ml/menit secara kontinu selama 4 – 5 jam oleh karena arus dari pembuluh darah yang deras maka diperlukan akses intravena yang cukup besar, sehingga dibuat hubungan antara arteri dan vena pasien yang biasanya disebut dengan cimino yang diletakkan di lipatan siku.
Komplikasi HD : 
1. Hipotensi
      Angka terjadinya komplikasi ini sekitar 15–30% dari pasien yang menjalankan hemodialisa. Keadaan yang biasa menyebabkan hipotensi menurut Clarkson et al (2010) antara lain kecepatan ultrafiltrasi yang tinggi,  diabetes mellitus, amyloidosis,medikasi (beta bloker, alpha bloker, nitrat, calcium chanel blocker), proses pencernaan makanan selama dialisis.
2. Keram
            Keram otot terjadi sekitar 20% dalam terapi dialisis. Keram otot ini berhubungan dengan kecepatan ultrafiltrasi yang tinggi dan rendahnya konsentrasi sodium diasilat yang dapat mengindikasi terkadinya keram yang menjadikan penyebab terjadinya kontraksi akut volume ekstraseluler (Clarkson et al., 2010). Selain itu kram mungkin adalah reflek dari perubahan elektrolit yang berpindah ke otot membran (O’Callaghan, 2006).
3. Dialysis Disequilibrium Syndrome
      Terjadi pada saat hemodialisis pertama kali atau pada awal dimulainya terapi hemodialisis. Sindrom ini merupakan akibat dari perubahan osmotik pada otak, khususnya pada dinding urea plasma. (O’Callaghan, 2006). Sindrom ini berhubungan dengan sekumpulan gejala yang mencakup mual dan muntah, kegelisahan, sakit kepala, dan kelelahan selama dilakukannya hemodialisa atau setelah dilakukannya hemodialisa. Dialysis Disequilibrium biasanya dilihat pada situasi dimana pada awal konsentrasi larutan sangat tinggi dan alirannya menalami kemunduran kecepatan (Clarkson et al., 2010).
4. Hipoglikemia
      Disebabkan oleh pengurangan level potassium yang terlalu sering.
5. Perdarahan
      Terjadi karena kerusakan fungsi platelet di daerah uremik dan adanya perubahan permeabilitas kapiler serta anemia. Dari beberapa hal tersebut dapat meningkatkan hilangnya di saluran pencernaan karena gastritis atau angiodysplasia, lesi yang berhubungan dengan gagal ginjal. Pada awal dilakukannya hemodialis, dilaporkan bahwa adanya sebagian kerusakan yang disebabkan disfungsi platelet dan permeabilitas kapiler. Pasien yang menjalani hemodialisis mempunyai resiko tinggi untuk terkena perdarahan karena terpapar heparin secara berulang ulang (Clarkson et al., 2010).
6. Hipoksemia
      Merupakan reflek dari hipoventilasi yang menyebabkan perpindahan dari bikarbonat atau penutupan pulmo sehingga mengakibatkan perubahan vasomotor dan terjadi aktifasi subtansi pada membran dialisis (O’Callaghan, 2006).
7. Gatal gatal
Terjadi setelah proses hemodialisis dilakukan mungkin terjadi karena adanya reflek gatal pada gagal ginjal kronik, eksaserbasi dari pelepasan histamin menyebabkan adanya reaksi alergi ringan pada membran dialisis. Jarang terjadi dengan terpaparnya darah pada membran dialisis dapat meyebabkakan respon alergi yang general (O’Callaghan, 2006). 

sumber :

Demam Rematik

Penjelasan : 
Demam rematik meruapakn suatu penyakit yang umumnya menimpa anak-anak dan remaja. Penyakit ini dianggap sebagai keadaan alergik yang menyerang jaringan ikat dalam tubuh, menyebabkan nyeri pada persendian, St. Vitus dance ( gerakan-gerakan otot yang cepat yang tidak dikehendaki ), karena gangguan urat saraf pusat dan jejas-jejas di kulit. Semua gejala ini bersifat sementara saja.

Bagian yang serius dari penyakit ini ialah bahaya yang diakibatkannya pada katup-katup jantung. Penyebabnya adalah kuman streptococcus yang terdapat di kerongkongan. Karena adanya kuman-kuman itu, tubuh menjadi sangat sensitif dan reaksi alergi inilah yang menyebabkan kerusakan.


Awalnya si anak akan merasa sakit kerongkongan. Beberapa hari atau minggu kemudian kemungkinan ia akan demam, sakit di persendian, kurang/hilang nafsu makan, berkeringat banyak dan timbul ruam. Dalam manifestasinya, gejala bisa berbeda-beda. Hal inilah yang menjadikan sulitnya menegakkan diagnosa. 
Demam rematik biasanya menimpa keluarga-keluarga tertentu. Jika kedua orang tuanya sudah pernah mengidap demam rematik di masa kanak-kanak, kemungkinan anak-anak mereka jugaakan menderita demam rematik. Dimana banyak sekali terdapat anak-anak atau remaja yang tinggal bersama-sama, selalu ada kemungkinan terjangkit demam rematik. Tinggal di rumah yang padat/sempit, kekurangan gizi dan kelembaban sangat memegang peranan. Serangan demam rematik juga bisa terjadi di kamp-kamp tentara atau asrama-asrama.
Demam rematik memang menyerang seluruh tubuh, namun kerusakan terbesar terjadi di jantung. Dua dari tiap-tiap seratus anak di sekolah mungkin menderita salah satu bentuk rematik jantung. Demam rematik biasanya menyebabkan banyak kematian selama dua puluh tahun pertama dalam kehidupan, daripada segala penyakit menular lainnya. Inilah fakta yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua. Demam rematik sudah menjangkiti anak-anak di setiap sudut dunia ini.
Perjalanan Penyakit : 

Demam rematik biasanya (awalnya) menjangkiti anak-anak yang berusia sekitar umur delapan tahun. Anak-anak itu akan terserang sakit kerongkongan atau selesma yang diikuti dengan radang tonsil atau bisa saja scarlatina. Sementara sembuh dari infeksi, beberapa persendiannya akan memerah, bengkak dan terasa sakit bila disentuh. Terasa nyeri pada otot-otot dan urat-urat, dan juga kehilangan selera makan, serta perasaan lemah. Benjolan-benjolan kecil yang lembut mungkin akan muncul di kulit, terutama pada persendian-persendian tertentu seperti siku. Pendarahan hidung bisa juga terjadi pada demam rematik, meskipun tidak terdapat luka.

Nyeri di dada mungkin mengindikasikan bahwa infeksi sudah mencapai kantung jantung dan otot-otot jantung. Anak itu mungkin akan terserang radang paru-paru, radang selaput dada, dan nyeri perut yang menyerupai gejala radang umbai usus buntu yang akut. Penderita mungkin menjadi gelisah karena gerakan otot yang cepat dan tersentak-sentak yang tidak dikehendaki. Demam rematik lebih umum terdapat pada anak perempuan, namun juga terjadi pada anak laki-laki. Gerakan tangan akan menjadi cepat, tersentak-sentak dan tidak teratur, dan si sakit memiliki kecenderungan menjatuhkan barang-barang di sekitarnya. Mungkin juga otot-otot menjadi lemah, malah akan ada kesulitan untuk mengunyah dan menelan, terutama pada anak perempuan.

Tidak semua demam rematik memiliki gejala-gejala yang seperti ini. Pada anak-anak lain penyakit ini mungkin diderita dalam stadium yang ringan, atau tipe terpendam(tersembunyi) dengan sedikit gejala-gejala, namun anak itu tidak sehat. Ia akan mudah menjadi lelah dan berat badannya mungkin tidak bertambah sebagaimana mestinya. Ia juga mungkin mengalami nadi yang berdenyut cepat dan terus-menerus disertai dengan demam, yang berlangsung cukup lama. Anak itu mungkin mengeluh karena nyeri yang disebabkan karena badannya yang tumbuh. Ini berati nyeri di otot-otot dan persendian-persendian dan bisa saja di jantung. Keluhan seperti itu harus diperhatikan dengan seksama. Anak itu harus di bawa ketempat tidur dan disuruh tinggal disitu sampai sembuh dan kembali kuat. Sekolah memang penting, namun yang lebih penting lagi adalah kesehatannya. Pastikan kunjungi dokter bila Anda menemui gejala-gejala seperti di atas.

sumber :
http://www.medkes.com/2013/03/kenali-ciri-ciri-demam-rematik.html

Gagal Ginjal Kronik

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan keadaan dimana gangguan fungsi ginjal yang bersifat menahun berlangsung progresif dan irreversible (tidak dapat kembali ke keadaan semula). 
Tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
Penyebab gagal ginjal kronik yang sering dijumpai adalah batu, infeksi yang disebut pirlonefritis, hipertensi, nefropati karena asam urat, nefropati karena lupus dan kencing manis.
Penderita gagal ginjal kornik sering mengeluh mual sehingga asupan makannya terbatas. Sehingga perlu dilakukan evaluasi dalam proses asupan makanan. Apabila terpai konservatif ini / evaluasi asupan makanan dapat dilakukan dengan baik dan fungsi ginjal dapat dipertahankan makan belum diperlakukan untuk terapi pengganti ginjal / hemodialisa atau orang orang - orang meyebut dengan cuci darah.
Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah penyimpangan progresif, fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan metabolik dan cairan dan elektrolit mengalami kegagalan yang mengakibatkan uremia.  Kondisi ini mungkin disebabkan oleh gloumerulonefritis kronis. Preparat lingkungan dan okupasi yang telah menunjukkan mempunyai dampak dalam gagal ginjal kronis termasuk timah, kadmium, merkuri, dan kromium. Pada akhirnya dialisis atau transplantasi ginjal diperlukan untuk menyelematkan pasien.

Etiologi :

Penyebab gagal ginjal terbagi menjadi 3 klasifikasi penyebabnya. 
Yaitu penyebab prerenal, penyebab renal (ginjal), dan juga penyebab postrenal. 

Faktor prerenal ini, maka gagal ginjal bisa disebabkan karena :
  1. Dehidrasi karena kehilangan cairan, misalnya karena muntah-muntah, diare, berkeringat banyak dan demam. 
  2. Hipovolemia (volume darah yang kurang), misalnya karena perdarahan yang hebat bisa karena akibat kecelakaan, perdarahan post partum atau perdarahan akibat yang lainnya. 
  3. Pemberian obat-obatan, contohnya adalah pemberian obat diuretic (pelancar kencing) yang menyebabkan pengeluaran cairan berlebihan berupa urin sehingga menyebabkan tubuh yang kekurangan akan air. 
  4. Dehidrasi karena kurangnya asupan cairan. Untuk itu kita harus bisa memenuhi kebutuhan air dalam tubuh kita yang cukup contoh mudahnya adalah dengan minum air putih paling tidak 8 gelas sehari.
  5. Gangguan aliran darah ke ginjal yang disebabkan sumbatan pada pembuluh darah ginjal.
Faktor renal sendiri adalah :
  • Sepsis. Menyebabkan sistem imun tubuh berlebihan karena terjadi infeksi sehingga menyebabkan peradangan dan merusak ginjal.
  • Obat-obatan yang toksik terhadap ginjal.
  • Peradangan akut pada glomerulus, penyakit lupus eritematosus sistemik, Wegener's granulomatosis, dan Goodpasture syndrome.
Faktor postrenal. Penyebab ini karena adanya faktor yang menyebabkan aliran urin dari ginjal mengalami gangguan. Dan penyebabnya antara lain :
  • Sumbatan saluran kemih (ureter atau kandung kencing) menyebabkan aliran urin berbalik arah ke ginjal. Jika tekanan semakin tinggi maka dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan ginjal menjadi tidak berfungsi lagi dan akhirnya terjadilah gagal ginjal.
  • Pembesaran prostat atau kanker prostat dapat menghambat uretra (bagian dari saluran kemih) dan menghambat pengosongan kandung kencing. Dengan terhambatnya proses pengosongan kandung kemih ini akan bisa memicu terjadinya gagal ginjal
  • Tumor di perut yang menekan serta menyumbat ureter.
  • Batu ginjal.
sumber : 


Aku dan Nursing Informatics

Nursing Informatics merupakan salah satu program elektif dari blok 4.1 dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM. Dimana dalam elektif ini saya belajar tentang penggunaan IT di bidang Keperawatan. Sejak awal saya sangat tertarik dengan elektif ini. Dalam elektif ini kita belajar dari berbagai segi teknologi dalam keperawatan, misalnya cara memenejemen aktifitas dalam suatu Rumah Sakit, Tindakan keperawatan berbasis elektronik, dsb.
Hal yang paling menyenangkan dalam elektif ini adalah kuliah yang diberikan oleh dua Dokter dari FK UGM. Dalam beberapa kuliah diajakan tentang SIMKES yaitu Sistem Informasi Manajemen Kesehatan. Untuk mempermudah mahasiswa dalam memahami beberapa kuliah dalam elektif ini dari pihak Prodi mengadakan fieldtrip ke RSUD Banyumas, dimana disana para mahasiswa diperlihatkan kemajuan teknologi dalam keperawatan, berupa pengaplikasian tindakan keperawatan berbasis elektronik yang dapat memudahkan kinerja perwata untuk nantinya. 
Selain itu  dari beberapa mata kuliah yang diajarkan adalah Nursing Informatics di Kanada, sehingga dalam pembelajaran ini dapat membandingkan kemajuan keperawatan dari Indonesia maupun dari Negara lain. 
Disini elektif ini saya dapat banyak belajat mengenai IT dan dengan blog ini saya berharap Ilmu keperawatan dapat berkembang dan dapat diketahua oleh kalayak ramai. Bravo Indonesia... Jaya Perawat Indonesia.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Gangguan Pertukaran Gas

GAGGUAN PERTUKARAN GAS 
Definisi : bertambahnya atau berkurangnya oksigenasi dan atau eliminasi karbon dioksida pada membran kapiler-alveolar.
Batasan karakteristik : 
  1. Gas darah arteri abnormal
  2. pH arteri abnormal
  3. Pernapasan abnormal (mis : kecepatan, irama, kedalaman)
  4. Warna kulit abnormal (mis : pucat, kehitaman)
  5. Bingung
  6. Sianosis / kebiruan (pada neonatus)
  7. Penurunan karbon dioksida
  8. Diaporesis / berkeringat
  9. Dyspnea
  10. Sakit kepala saat bangun
  11. Hiperkapnia
  12. Hipoksemia
  13. Hipoksia
  14. Iritabilitas
  15. Nasal flaring
  16. Gelisah
  17. Somnolen 
  18. Takikardi
  19. Gangguan penglihatan
  20. Letargi dan kelelahan
  21. Mengerutkan bibir saat bernapas
  22. Penurunan kadar oksigen, penurunan saturasi oksigen
  23. Kecenderungan memilih 3 posisi, antara lain : duduk, meletakkan salah satu tangannya dilutut, dan badan membungkuk ke depan.
NOC (Nursing Outcome Classification)

1. Status pernapasan : pertukaran gas
Definisi : pertukaran alveolus dari karbon dioksida dan oksigen untuk memelihara konsentrasi gas darah arteri.

Indikator :


a.       Dyspnea saat beristirahat

b.      Dyspneaketika beraktifitas ringan

c.       Gelisah

d.      Kebiruan

e.       Somnolen

f.       Gangguan kognisi

2. Tanda tanda vital
Definisi : secara luas mengetahui suhu, nadi, pernapasan dan tekanan darah dalam rentang normal.
Indikator :


a.       Suhu tubuh

b.      Kecepatan nadi darah

c.       Kecepatan pernapasan

d.      Ritme pernapasan

e.       Tekanan darah sistol
f.       Tekanan darah diastole

g.      Kedalaman saat menghirup udara


NIC (Nursing Intervention Classification)
1. Terapi Oksigen / Oxigen Therapy
Definisi : pemberian oksigen dan pengawasan akan kefektifannya.
Aktifitas


a.       Membersihkan sekresi oral, nasal, dan trakhea seagaimana mestinya

b.      Melarang merokok

c.       Menyusun perangkat oksigen dan mengawasi melalui sistem yang hangat dan lembab

d.      Mengawasi laju aliran oksigen

e.       Mengawasi posisi pengiriman oksigen

f.       Mengajari pasien tentang pentingnya membiarkan perangkat oksigen agar tetap menyala


2.  Pengawasan tanda tanda vital / Vital Sign Monitoring
Definisi: Pengumpulan dan analisis terhadap data kardio vaskuler, pernapasan, suhu badan, untuk menentukan dan mencegah komplikasi.
Aktifitas


a.       Mengawasi tekanan darah, detak jantung, temperatur, dan status pernafasan sebagaimana mestinya.

b.      Mencatat kecenderungan dan fluaktuasi luas pada tekanan darah

c.       Mengawasi tekanan darah ketika pasien berbaring, duduk, dan berdiri, sebelum dan setelah perubahan posisi, sebagaimana mestinya

d.      Mengawasi tekanan darah, denyut jantung, dan pernafasan, sebelum, selama

e.       Mengawasi tekanan darah pasien setelah diberikan obat, bila memungkinkan, dan sesudah aktifitas, sebagaimanan mestinya

f.       Mengawasi bunyi detak jantung

g.      Mengawasi suara paru-paru

h.      Mengidentifikasi kemungkinan penyebab perubahan pada tanda-tanda vital


Kelebihan Volume Cairan

KELEBIHAN VOLUME CAIRAN
Definisi : peningkatan retensi cairan elektrolik
Batasan karkteristik :
1.    Bunyi napas adventisius
2.    Gangguan elektrolit
3.    Anascara
4.    Kecemasan
5.    Azotemia
6.    Perubahan tekanan darah
7.    Perubahan status mental
8.    Perubahan pola pernapasan
9.    Penurunan hematokrit
10.  Penurunan hemoglobin
11.  Dipsnea
12.  Edema
13.  Peningkatan tekanan vena sentral
14.  Pemasukan lebih banyak dari pengeluaran
15.  Distensi vena jugularis
16.  Oliguria
17.  Orthopnea
18.  Efusi pleura
19.  Reflek hepatojugularis positif
20.  Perubahan tekanan arteri pulmonary
21.  Kongesti pulmonal
22.  Gelisah
23.  Perubahan berat jenis urin
24.  Bunyi jantung S3
25.  Penambahan berat badan yang signifikan dalam waktu sangat singkat
Faktor yang berhubungan :
1.    Gangguan mekanisme regulasi
2.    Kelebihan asupan cairan
3.    Kelebihan asupan natrium
NOC (Nursing Outcome Classification)
Fungsi ginjal
Definisi : kemampuan ginjal untuk meregulasi cairan tubuh, menyaring darah, dan mengeliminasi produk sisa pembentukan urin. 
a.       Pengeluaran urin 8 jam
b.      Keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam
c.       Turgor kulit
d.      Warna Urin
e.       Peningkatan BUN (Blood Urea nitrogen)
f.       Berat badan yang berlebih
g.      Hipertensi
h.      Mual
i.        Lelah
j.        Malas malasan
k.      Anemia
l.        Edema / bengkak
NIC (Nursing Intervention Classification)
1. Manajemen Cairan / Fluid Management
Definisi: Peningkatan keseimbangan cairan dan pencegahan terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh level cairan yang abnormal atau tak diperlukan.
Aktifitas


a.       Mempertahankan keakuratan daftar pemasukan dan pengeluaran

b.      Memonitor status hidrasi (mis kelembaban membrane mukus, keadekuatan nadi, dan tekanan darah ortostatik) jikia diperlukan.

c.       Memonitor hasil laboratorium yang relevan untuk retensi cairan (mis : peningkatan berat jenis, peningkatan BUN, penurunan hematocrit, dan peningkatan level osmolalitas urin).

d.      Mengawasi status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP apabila tersedia

e.       Mengawasi tanda-tanda vital, pada waktu yang diperlukan

f.       Mengawasi tanda-tanda cairan berlebih / penyimpanan (contoh: keretakan, peningkatan CVP, atau tekanan jepitan kapiler paru-paru, edema, tekanan balik vena di leher, dan asites), sebagaimana mestinya.

g.      Mengawsi berat badan pasien sebelum dan sesudah dialisis, apabila diperlukan

h.      Mengawasi cairan dan makanan yang dicerna dan menghitung konsumsi kalori harian, sebagaimana mestinya.



2. Pemeliharaan Akses Dialisis / Dialysis Access Maintenance
Definisi: pemeliharaan situs akses vaskuler (arterial-venous).
Aktifitas


a.       Pengawasan jalan keluar kateter untuk pemindahan

b.      Menerapkan semprotan steril, salep, dan pembungkusan (dressing) pada situs kateter dialisis venous tengah dengan tiap perawatan.

c.       Mengawasi tes AV fistula pada frekuensi interval tertentu (merabai getaran dan meng-askultutasi untuk bruit)

d.      Heparinisasi kateter dialisis yang baru saja dimasukkan

e.       Mengajari pasien untuk menghindari tekanan pada situs akses periferal

f.       Mengajari pasien tentang bagaimana merawat akses dialysis